Selama hidup 21 tahun
didunia, ternyata usia yang paling challanging
dimulai dari usia 20 tahun. Diusia memasuki 20 tahun, hidup gue yang tadinya
mulus, lempeng, asik, seru dan manis semua problematika yang ada dapat terselesaikan
dengan berakhir indah dan mudah. Manusia didunia pun terasa seragam, sama tapi
tidak mungkin sama. Seketika hidup terasa seperti roller coaster, terasa sulit diikuti, bahkan sulit dimengerti. Seolah
hidup diusia 20 tahun terasa lebih menyadarkan bahwa manusia didunia, sangat
beragam dengan segala dramanya.
***
Gue yang masih terbawa
sifat remaja dengan penuh kepolosan, sering kali pusing dihadapkan dengan
manusia yang beragam dan seolah dipaksa untuk menjadi dewasa. Pemikiran yang
terkadang membuat perasaan menjadi hancur, atau sebaliknya. Its ok. Im only human. 20 tahun seperti usia
titik balik untuk kita lebih menyadari this
is reality of life, true life.
***
Gue belajar menjadi
orang yang sabar ketika gue diuji menjadi satu –satunya perempuan yang ada
dirumah. Gue belajar menjadi orang yang kuat, disaat gue down. Gue inget betapa
struggle –nya menjadi seorang ayah
yang berjuang, mendidik mati –matian untuk membahagiakan, membuat kehidupan
orang tersayang baik –baik saja tanpa adanya sebuah masalah dan gue belajar
menjadi orang yang tidak terlalu berekspektasi terlalu jauh. Hoping with humans is taboo, gada sehat –sehatnya,
bisa jadi boomerang buat segala
energi positif yang ada, yang kita kumpulkan.
***
Thats
the point of life. Pengalaman dan hal kecil. Kenapa ada
hal kecil ? sering kali kita melupakan hal kecil demi tujuan yang besar. Mereka
berdua adalah guru maya yang dapat mengajarkan kepada kita all about life. Pengalaman
yang beragam. Mulai dari yang manis, pahit, sesak didada sampai tidak nalar
diotak. Sampai mati, hati. Balik lagi, bener agama selalu benar untuk dijadikan
pedoman. Manusia diajarkan untuk tetap berusaha dan berdoa. Sisanya
? serahkan kepada –Nya. Dengan adanya sebuah masalah, kita bisa menyadari bahwa
sejatinya ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan. Gabisa kita utak –atik
selain kuasa, Yang Maha Kuasa. Mau sekeras apapun usahanya, sedalam apapun
perasaannya, kalo bukan skenario yang ditulis oleh-Nya, tidak akan sejalan.
Rasa saja bisa dibolak –balikkan oleh –Nya, apalagi hal yang nampak. Sesimple itu.
Manusianya aja yang suka membumbui. Biar seru kaliya? Tapi
dengan adanya bumbu itu, kita bisa belajar. Life
is not complicated.
“Thank
you life, for being such a roller coaster. Thank you for being my greatest
teacher.”
Komentar
Posting Komentar