Langsung ke konten utama

Male Vs Female


Hmm, bahas gender. Hal ini terkadang cukup menarik untuk dibahas, terlebih banyak pertanyaan yang keluar dari orang lain akan masalah ini. Entah dari sisi sebuah hubungan individu dengan individu maupun dalam berkelompok.

Kenapa sih cowok itu gapeka ? kenapa sih dia begini, begitu dan segala macem keluhan perempuan terhadap seorang laki –laki yang ia sayangi. Its mainstream untuk gue denger bahkan udah gue kategorikan sebagai hal yang basi. Akhirnya gue pun mencari apa sih perbedaan yang sesungguhnya.

***

Dalam buku berjudul men for mars, women for venus ditulis oleh John Gray pada 1992 (gue baca di internet). Buku ini ditujukan untuk memahami hubungan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan sikap antara perempuan dan laki-laki membuat sering terjadi salah paham antara kedua belah pihak. Namun, benarkah otak perempuan dan laki-laki bekerja dengan cara yang berbeda?

***

Peneliti diabad 19 ternyata sudah dapat membedakan perempuan dan laki-laki hanya dengan melihat otaknya, meski penelitian terbaru menyebutkan bahwa otak secara fisik tidak ada perbedaan antara otak perempuan dan laki-laki. Namun, menurut Ragini Verma, PhD dosen pada University Pennsylvania di Philadelphia, penelitian mereka menemukan adanya perbedaan signifikan antara sirkuit otak perempuan dan laki-laki, bahkan ketika mereka melakukan hal yang sama. Bahkan pada tahun 2015, Tel Aviv University (salah satu universitas di Israel) pernah melakukan riset tentang otak kedua gender ini dan hasilnya adalah mengetahui cara kerja otak perempuan dan laki –laki sebagai female end zone dan male end zone.

Terus apa yang membedakan?

Perempuan lebih sering menggunakan otak kanannya, hal tersebut yang menjadi alasan perempuan lebih mampu melihat dari berbagai sudut pandang dan menarik kesimpulan. Masih berdasarkan penelitian Ragini Verma, otak perempuan lebih bisa mengaitkan memori dan keadaan sosial, ini yang menjadi alasan perempuan lebih sering mengandalkan perasaan. Menurut kajian Tel Aviv, perempuan dapat menyerap informasi lima kali lebih cepat dibandingkan laki-laki. Ini menjadi alasan perempuan lebih cepat menyimpulkan sesuatu dibanding laki-laki.
***

Berbeda dengan perempuan, laki-laki memiliki kemampuan motorik yang jauh lebih kuat dibandingkan perempuan. Kemampuan ini dapat digunakan untuk kegiatan yang memerlukan koordinasi yang baik antara tangan dan mata. Ini menjadi salah satu alasan laki-laki lebih baik dalam olahraga yang mengandalkan lempar-melempar bola. Menurut Daniel Amen, MD, penulis Unleash the Power of the Female Brain, otak laki-laki 10% lebih besar dibanding perempuan, tetapi bukan berarti laki-laki menjadi lebih pintar dibandingkan dengan perempuan. Ukuran otak tidak mempengaruhi kepintaran atau pun IQ seseorang.

Menurut Witelson yang dikutip CBC News, otak laki-laki lebih rentan dibandingkan dengan otak perempuan. Selain itu, otak laki-laki mengalami perubahan seksual yang dipengaruhi oleh hormon testoteron.

Meskipun biasanya ukuran otak laki-laki lebih besar dibanding ukuran otak perempuan, faktanya hippocampus pada perempuan lebih besar dibanding laki-laki. Hippocampus adalah bagian otak yang menyimpan memori, salah satu alasan perempuan bisa mengolah informasi lebih cepat seperti yang sudah disebutkan di atas. Adanya perbedaan respon antara perempuan dan laki-laki terjadi karena perempuan memiliki verbal center pada kedua bagian otaknya, sedangkan laki-laki hanya memiliki verbal center pada otak bagian kiri. Biasanya ini yang menyebabkan perempuan lebih suka berdiskusi, bergosip, bercerita panjang lebar dibanding laki-laki.

***

Laki-laki lebih suka melihat sesuatu yang mudah, mereka tidak memiliki ‘koneksi’ yang baik tentang hal-hal yang melibatkan perasaan, emosi, atau curahan hati. Itu sebabnya, perempuan suka mengeluhkan bahwa laki-laki tidak cukup peka, melupakan hal-hal yang dianggap penting oleh perempuan. Hal ini dipicu karena otak laki-laki tidak didesain untuk terkoneksi pada perasaan atau emosi. Laki-laki biasanya ketika memutuskan sesuatu jarang melibatkan perasaan. Laki-laki juga jarang menganalisis perasaannya dibandingkan dengan perempuan yang biasanya selalu melibatkan perasaan dalam memutuskan sesuatu.
Stereotip merupakan suatu konsep yang dilekatkan pada diri seseorang dan belum tentu benar. Contohnya, laki-laki tidak boleh terlihat lebih banyak bicara atau cerewet, karena cerewet itu identik dengan perempuan. Perempuan tidak boleh sering bermain bola, karena bola hanya dimainkan oleh laki-laki. Konsep seperti ini yang melekat pada masyarakat tentang bagaimana perempuan dan laki-laki seharusnya bersikap.

***

Otak laki-laki memang tidak didesain untuk melibatkan perasaan, namun bukan berarti laki-laki tidak memiliki rasa empati. Menurut Dr. Brizendine yang dikutip Livescience, empati pada laki-laki bekerja ketika ada seseorang yang menunjukkan perasaannya. Faktanya laki-laki lebih memiliki respon yang emosional dibanding perempuan, hanya saja ketika laki-laki menyadari perasaannya, laki-laki memilih untuk tidak memperlihatkannya, karena stereotip yang muncul di masyarakat. Laki-laki akan memilih untuk lebih diam dan terlihat keren. Begitu juga dengan perempuan, muncul stereotip bahwa harus laki-laki yang memiliki inisiatif maju dalam hubungan. Perempuan memang cenderung lebih perasa dibanding laki-laki, namun bukan berarti perempuan tidak bisa mengambil inisiatif untuk maju lebih dahulu dalam sebuah hubungan.

Stereotip membedakan mana karakter laki-laki dan perempuan, seperti yang sudah disebutkan bahwa laki-laki harusnya lebih diam, berwibawa, cepat mengambil keputusan dibanding perempuan dan lebih tangguh dibanding perempuan. Seperti halnya hanya laki-laki yang boleh mengerling atau mengedipkan mata pada perempuan, karena hal tersebut sudah ‘disepakati oleh masyarakat’ turun temurun, jadi identik sebagai kebiasaan laki-laki. Ketika perempuan melakukan hal yang sama, akan dianggap kurang pantas. Tentunya kita harus lebih bijaksana dalam menilai sesuatu. Begitu juga tidak asal menilai laki-laki tidak peka ketika keinginan perempuan tidak dapat dibaca olehnya. Begitu juga sebaliknya.


Pesan yang gue dapet yaitu apa yang kita terima itu yang kita olah sesuai dengan porsi berfikirnya. Kenapa ada hal “bertepuk sebelah tangan?” kenapa ada hal –hal lain yang mungkin menjadikan sebuah hubungan tidak harmonis lagi ? tidak hanya hubungan antar lawan jenis saja, tapi with another (everyone) didunia itu karena adanya hal yang tidak saling terbuka antar satu sama lain. Karena setiap kepala, mempunyai persepsinya masing –masing, dengan ekspektasi beserta judge nya. hmm balik lagi bagaimana manusia memanusiakan manusia dalam mengkontrol diri dan bersosialisasi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Be your self

Gue akhir –akhir ini nge aktifin kembali sosial media gue yang bernama instagram. Mirip anak remaja jaman sekarang, labil. Instal, un instal. Gue sendiri sebenernya pake instagram juga belum ngerti manfaat dari gunain instagram, yang gue tau cuma liat reality life dari orang lain sehari –harinya, dan gue cenderung lebih suka ke sosial media twitter yang dimana disana banyak informasi yang gue dapet dibandingkan ngeliat kehidupan orang lain. *** Disuatu hari, gue liat sebuah instastory dari seseorang selebgram terkenal. Dia suka ngereceh, nge upload screenshoot –an dari fansnya yang ngerekomendasiin dirinya untuk buka akun youtuber yang akhir –akhir ini terkenal akan berdandan yang unik dan langka. Gue langsung penasaran disitu, kenapa dia sampai seterkenal itu ? siapa dia ? akhirnya gue pun buka akun youtube itu juga. Setelah gue buka, ternyata seorang perempuan dewasa yang tampak seperti anak kecil dengan polosnya mencoba bermake up untuk segala momen dan segala cara yang baru...