Seperti salah penulis
novel atau mungkin beberapa orang lainnya, gue juga menyukai pelajaran biologi,
kimia bahkan matematika pas SMA yang buat gue pernah kepikiran buat jadi guru
di salah satu mata pelajaran itu.
Salah satu materi yang
dipelajari dalam biologi adalah sistem indera. Rasa berarti tanggapan indra
terhadap rangsangan saraf seperti manis, pahit, masam terhadap sebuah indera. Pedas
bukan termasuk rasa, tapi itu sensasi.
***
Dari semua rasa itu,
gue mikir. Kenapa ada rasa selain rasa yang ada diatas? Kenapa muncul adanya
perasaan disisi rasa ? Ya. Rasa menyukai, membenci bahkan menyakiti. Seperti biasa,
untuk menjawab overthinking gue, guepun mencoba mencarinya sendiri.
***
Perasaan menurut psikologi adalah suatu keadaan dalam
kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilai sebagai keadaan
positif dan negatif. Selain itu dalam pandangan Dirganusa, Perasaan (feeling) mempunyai dua arti. Di tinjau
secara fisiologis, perasaan adalah pengindraan, sehingga merupakan salah satu
fungsi tubuh untuk mengadakan kontak dengan dunia luar. Dalam
psikologis, perasaan mempunyai fungsi menilai, yaitu penilaian terhadap sesuatu
hal. Makna penilaian ini tampak misalnya “ Gue rasa nanti sore hari akan
hujan”( Ibid, hal : 427).
Menurut Drs. Agus Sujanto di Psikologi Umum halaman 75
menyatakan bahwa perasaan adalah suatu pernyataan jiwa, yang sedikit banyak
bersifat subjektif, untuk merasakan senang atau tidak senang dan yang tidak
bergantung kepada perangsang dan alat-alat indra. Sedangkan menurut Prof.
Hukstra, perasaan adalah suatu fungsi jiwa yang dapat mempertimbangkan dan
mengukur sesuatu menurut rasa senang dan tidak senang.
Perasaan selalu bersifat subjektif berbeda dengan berfikir karena banyak
dipengaruhi oleh keadaan diri seseorang, ada unsur penilaian tadi biasanya
menimbulkan suatu kehendak dalam seseorang individu. Kehendak itu bisa positif
artinya individu tersebut ingin mendapatkan hal yang dirasakannya suatu yang
memberikan kenikmatan kepadanya, atau juga bisa negatif artinya ia hendak
menghindari hal yang dirasakannya sebagai hal yang akan membawa perasaan tidak
nikmat kepadanya.
***
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi
keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi…”
(QS al-Baqarah 74).
Inilah ayat pertama yang gue
dapetin untuk menjawab rasa penasaran gue, menjadi awal pembahasan. Kalo udah
bahas perasaan pasti nyambungnya ke hati. Hatilah yang mempunyai pengaruh besar
dalam hidup kita. Namun seperti apa sih bentuk hati itu sebenarnya? Apakah itu
jantung? Ataukah yang biasa orang-orang sebut sebagai lever? Apakah yang
bentuknya seperti love? (♥ = hati?).
Kemudian ada diayat lain,
Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami
jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari golongan jin dan manusia,
mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami, dan mereka
mempunyai mata tidak dipergunakan untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga
tidak dipergunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan
mereka lebih sesat lagi. Merekalah orang-orang yang lalai.” (QS.
Al-Arâf: 179).
Qalb, bashar, sam’,
merupakan “sarana” yang diberikan Allah untuk memahami, melihat, dan mendengar
Al-Hak. Ketiganya merupakan daya untuk menangkap kebenaran. Namun hati di sini
bukanlah sebagai alat perasa. Akal atau berfikirlah yang merupakan fungsi utama
dari qalb yang haqiqi. Memang
benar 1 + 1 = 2, siapa yang dapat menyangkal. Namun terkadang, hati kecil kita berkata “Apa iya 2? Bisa
saja kan 4?” Hatilah yang menjadi alat penilai terakhir setelah akal/otak.
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai
hati yang dengan itu mereka dapat berfikir atau mempunyai telinga yang dengan
itu mereka dapat mendengar?…”(QS. Al-Hajj 46). Seperti itulah Allah menggunakan kata ya’qilûnuntuk hati, dan dalam surah al-A’râf
179 dengan kata yafqahûn juga
untuk hati. Itulah sebabnya hati kita gunakan tidak hanya sebagai perasaan
namun juga alat untuk berfikir dan memahami terhadap kebenaran (al-haq) yang Allah berikan.
“Orang berakal itu bukan
orang yang bisa membedakan yang baik dari yang buruk, tetapi yang bisa
mengetahui mana yang lebih baik dari dua keburukan.” (Khalifah Umar bin
Khatthab). Wallahualam.
***
Lantas, kenapa orang selalu menghubungkan rasa,
perasaan menjadi cinta. Apa itu cinta ? sesungguhnya betapa sulitnya gue nge desc kata yang satu ini. Sama halnya
ketika kita harus mendefinisikan ihwal kebahagiaan. Mulanya berpandangan mata,
lantas saling senyum, kata berbalas kata dan pada akhirnya memadu janji. Haha terdengar klasik. Bahkan, hal semacam inipun
digambarkan dan dibenarkan oleh Syauqi
Bey seorang penyair asal Mesir bahwa ini terkadang terjadi oleh cinta romantis
semasa pacaran yang kadang-kadang berakhir putus setelah puas bertemu dalam
memadu cinta tidak sampai ke jenjang
pernikahan. T_T
***
Dalam bukunya The Art of Loving (Seni Mencinta), Erich Fromm sedemikian jauh telah berbicara tentang cinta sebagai alat mengatasi keterpisahaan manusia, sebagai pemenuh kerinduan akan kesatuan. Akan tetapi, di atas kebutuhan eksitensi dan menyeluruh itu, timbul suatu kebutuhan biologis, yang lebih spesifik yaitu keinginan untuk menyatu antara kutub-kutub jantan dan betina. Ide pengutuban ini diungkapkan dengan paling mencolok dalam mitos bahwa pada mulanya laki-laki dan wanita adalah satu, kemudian mereka dipisahkan menjadi setengah-setengah, dan sejak itu sampai seterusnya, setiap lelaki terus mencari belahan wanita yang hilang dari dirinya untuk bersatu kembali dengannya. terus nanti muncul bahasa “orang ketiga” atau kata jaman now nya “pelakor” haha pelik ya.How about feelings.
***
Pesan
yang gue dapet, setiap individu butuh yang namanya kontrol diri terhadap sebuah indera atau bahkan semua yang terjadi. Dimana diri
yang kita bawa sehari –hari, mulai dari
tidur sampai tidur lagi harus kita kendalikan apapun itu rasa, perasaan bahkan
sebuah hati, karena semuanya berawal dari diri dan kontrol diri. agar tidak terjadi apa yang tidak diinginkan.
Dah
ah bye, ga kerasa udah subuh jadi subuhan dulu. Jangan lupa ibadah guys. See you...
Permisi penulis, saya mau nanya, in case ada sebuah pasangan yang langgeng hingga berstatus resmi nikah, hingga salah satu pasangannya menghadap ke Maha Kuasa (dlm usia tua), lalu ga lama dia (cowo) menjalin kasih dengan yang lain dalam status resmi nikah. Apakah pasangannya yg telah pergi bukan belahannya? Dan menurut penulis, apakah cinta itu bisa habis dalam hati manusia? Kalau habis apa bisa di charge seperti baterai hp? Terima kasih.
BalasHapusperihal kepergian dan belahannya atau bukan, wallahualam, manusia ga ngerti. Cinta bisa habis? tergantung darimana kita memandang cinta itu dari sudut pandang mana. di blog sebelumnya rasa mencintai menurut penelitian akan terjadi selama 4 tahun aja karena bawaan hormon yang ada. But, kalo cinta diartikan sebagai "home" yang bisa bikin nyaman, saya rasa akan terus bersemi
Hapus