Saat ini gue lagi
berada di tempat tinggal sementara gue selama di tanah rantau (read : kamar
kosan). Kamar kosan ini tempat dimana gue belajar, beristirahat dan ngelakuin
aktivitas lainnya termasuk merenungkan sesuatu yang telah terjadi. Entah itu
hal yang hari ini terjadi hari ini atau kejadian lampau yang teringat kembali
untuk bahan introspeksi diri, bahan pengingat diri. Gue keinget kejadian saat
gue berkendara menuju kekota. Dengan segala kejadian hiruk pikuk yang terjadi
dijalanan, banyak orang yang mengeluh, entah itu mengeluh perihal macet, panas
dan debu jalanan, sampai mengeluh bahkan memarahi antar pengemudi kendaraan yang tiba –tiba berhenti yang dapat
menyebabkan kemacetan atau kecelakaan itu sendiri. Bunyi klakson pun sering di
bunyikan oleh si pengendara yang enggan menunggu kemacetan atau hal yang bersifat
mengganggu lainnya. Bahkan ada pengemudi yang mengeluhkan aparat seperti polisi
yang dianggapnya sulit untuk mengatur jalanan. Tanpa kita tau bahwa aparat juga
pastinya menginginkan hal yang pastinya membuat pengemudi lebih nyaman. Pelik
kalo ngeliat dan ngerasainnya.
***
Biasanya, otak dan hati
gue selalu ngajak gue untuk berbicara, mereka ngeluarin beberapa opini atau
argumen akan suatu hal yang terjadi. Pengemudi berenti dadakan emang bisa jadi
karena penumpangnya yang ngomongnya dadakan, bisa jadi karena pengemudi yang
kelupaan, bisa jadi karena ada penumpang yang enggan naik atau turun sehingga
awalnya dia ngambil jalur sebelah kanan yang tiba –tiba pindah ke jalur sebelah
kiri (seperti kasus angkutan umum) dan bisa nimbulin kemacetan bahkan perdebatan antar pengendara karena bisa
merugikan. Tanpa kita tau juga, pengemudi itu sudah memikirkannya atau tidak sebelum
melakukannya. Bisa jadi kelupaan. (Gue jadi keinget istilah emak –emak naik
kendaraan sen kanan tapi belok kiri haha gemes sih). Klakson –pun emang
digunain agar antar pengemudi itu bisa lebih cepat untuk memperlancar arus
kendaraan yang ada, bisa jadi juga karena pengemudi itu sedang ada keperluan
yang mendesak yang harus disegerakan atau emang pengemudi itu ga sabar dan ga
tahan karena panas dan debunya. Panas dan debu yang mengenai pengendara juga
bisa menyebabkan beberapa pengendara mengalami problem dalam berkendara, khususnya wanita yang sering gue
liat dan denger, tapi ada kalanya gue
juga denger dari kaum laki –laki. Beberapa sering banget tuh ngeluhin panas,
debu jalanan yang mungkin bisa mengubah warna kulit atau perawatannya menjadi
sia –sia. Entah apa yang ada pada masing –masing kepala pengemudi ini. Wchs,
kita sama sama terkena panas, kena debu dikemacetan yang ada, jalanan pun sulit
untuk kita tembus karena semua kendaraan tumpah ruah di jalan. Dan kita juga
gabisa ngatur suhu lingkungan seenaknya. Lu pikir ini AC. Memang, manusia
dengan segala pemikirannya selalu saja berbeda posisi cara pandang, makna dan
tujuannya.
***
Otak dan perasaan gue
ngajakin gue untuk terus berargumen dan beropini perihal kejadian ini selama
perjalanan menuju tempat tujuan. Beberapa kesempatan memang, otak gue bilang “yaudahlah
ngapain juga gue mikirin” tapi beberapa kesempatan juga si hati bilang “ lu
gaboleh egois atau bersikap tidak peduli, lu bisa belajar dari orang lain, dari
lingkungan sekitar bahkan dari hal sekecil apapun” terdengar seperti konflik
batin, tapi ini bukan. Ini bentuk self talk seperti layaknya manusia yang
sedang berdiskusi. Gue inget kata blogger “you know, our brain thinks way
faster than our mount and brain combined trying to construct a sentence.” Iya
bener katanya. Tapi secepat apapun ga bisa ngejangkau situasi yang pada saat
itu terjadi. Bagaimana menyelesaikan situasi atau menyadarkan pengemudi lain
bahkan konflik antar pengemudi, keburu lancar jalanan haha. Iya kadang disela –sela
itu muncul pemikiran “emang gue siapa ya ngatur –ngatur orang. Apalagi gue
masih bocah yang mungkin beberapa orang bakal nganggep "ngapain ini ngikut –ngikut. Gue pun jauh dari kata sempurna. Dah sana
main tiktok atau mussically aja. haha” Akhirnya gue pun mengkonsumsi jawabannya
untuk diri gue sendiri.
***
Pesan yang gue dapet
yaitu memang bener, sekecil apapun dari siapapun, dari manapun baik tua atau
muda, berprofesi atau tidak dan sebagainya kita bisa dapetin makna yang
berharga. Kita gabisa menjudge atau menilai sesuatu dari luarnya saja. Kita belum
tentu sepemikiran, sama rasa dan sama perihal sudut pandang dalam menilai. Selain
itu, dalam hal berkendara memang kita perlu adanya kesadaran yang lebih untuk
menjadi pengendara yang cerdas dan lebih berhati –hati. Berhati –hati dalam
berkendara, seperti kita juga perlu mengantisipasi pengendara yang mungkin bisa
tiba tiba berpindah haluan, pengendara yang mungkin mengalami sesuatu yang
mendadak, dan masih banyak kemungkinan karena kita ga tau apa yang akan terjadi
dikemudian. Bahkan bukan di kemudian hari aja, kitapun ga tau bakal
terjadi apa di menit atau detik selanjutnya. Selain itu, untuk ngehadepin panas
dan debu jalanan, kita bisa kok tanpa mengeluhkan hal tersebut, kita pake
jaket, sarung tangan, masker atau hal lainnya yang bisa ngelindungin diri agar
terhindar dari sesuatu yang mungkin bisa ngerubah kondisi kita. Walaupun itu
balik lagi ke individu masing –masing. Kebutuhan akan manusia satu dengan yang
lain berbeda. Termasuk yang gue sampaikan dalam tulisan ini, gue mencoba
menuangkan apa yang gue dapet, kali aja bisa dijadiin bahan introspeksi
bersama. Memang sih menurut gue perlu banget kesadaran, pemikiran positif dan
hati yang sabar pada tiap individu yang harus ditanamkan dalam memahami dan
mengalami sesuatu. Lagi –lagi memang faktor internal sebelum faktor eksternal
buat manusia dengan segala pemikirannya.
Komentar
Posting Komentar