Langsung ke konten utama

Main didunia maya


Rehat dulu dari hal rasa dan tentang perasaan. Pindah ke hal tentang main di dunia maya, joged –joged menggunakan aplikasi misalnya. Iya, lagi booming boomingnya nih, aplikasi tiktok. Aplikasi tiktok itu sebuah aplikasi yang sebenernya dibuat untuk membuat video kreatif (menurut yang gue baca di playstore). Akhir –akhir ini gue emang ngebatesin banget, ngurangin buat pake sosial media yang menurut gue manfaatnya sedikit untuk diri gue, gue sudah cukup dengan aplikasi yang gue punya. Walaupun, ini balik lagi sama si penggunaan sosial media itu sendiri. Iya, kembali ke si user itu sendiri, bagaimana menyikapi dan nge –gunainnya dilandasi dengan akal sehat. Banyak di akun sosial media yang ngeposting tentang aplikasi tik tok itu sendiri, entah beranda line, maupun di twitter yang notaben sekarang penggunanya ga sebanyak pengguna akun instagram.
***
Banyak komentar tentang tiktok, dari hal yang positif ada pula yang negatif semua ada. Ya namanya hidup didunia ya, pada dasarnya positif dan negatif selalu berdampingan. Seperti yang udah gue sebutin di blog sebelumnya, hal itu selalu ada agar hidup kita balance. Apalagi komentar netizen tentang Bowo dan seorang perempuan yang terkenal dengan “istri iqbal” itu sendiri. Haha. Booming banget tuh. Gue awalnya ga ngerti sama sekali karena gue ngehapus instagram. Gue ga ngerti apa sih itu Bowo dan sebagainya. Siapa sih mereka dan ada apa dengan mereka sampai seterkenal itu. Setelah gue baca dan sedikit mengikuti buat gue cari tau, khususnya tentang Bowo itu sendiri, ternyata dia anak usia 13 tahun yang hobinya joged –joged di aplikasi tiktok itu sendiri. Pertanyaan gue, terus kenapa dia mendadak viral (?) dikomentarin sama netizen bahkan sampe timbul haters tapi ada meet and greet nya. Haha. Padahal kan banyak user tiktok lainnya yang ngegunain aplikasi itu sendiri, engga cuma dia. Bahkan orang tua dari Bowo sendiri pun gue baca di berita, sampai angkat bicara gegara adanya problem terkait netizen terhadap anaknya. Antara kasian, sedih atau gimana gitu gue nge bacanya. Tingkah laku anaknya, bakal keimbas ke orang tuanya. Disini gue pada kubu yang normal, ga mihak ke siapapun. Pure ini pandangan gue tentang dunia diluar sana. Kebetulan juga gue liat ada Vlog artis yang mengangkat bowo alpenliebe ini dengan bincang langsung dengannya. Menurutnya nama alpenliebe itu sendiri (permen alpenliebe) karena “cokelat manis” seperti dirinya, jawabnya dengan muka polos dan lugunya itu. Haha, ada –ada saja, gemes gue jadinya. Wchs, ternyata yang menjadikan bowo ini viral yaitu perihal fansnya mendewakan dirinya yang di buatnya sebagai “tuhannya tiktok”. Gue ga habis pikir, kenapa para fansnya ini mendewakan manusia, bahkan men –tuhankan ciptaan-Nya. Begitu juga menurut Bowo. Gue tau, pada dasarnya seseorang yang sudah mencintai sesuatu pasti cenderung untuk melakukannya lebih. Apalagi di jaman milenial ini, terlebih scop lingkungan hidup dikota. Segala sesuatu bisa kita dapat, ditambah teknologi yang makin berkembang dan maju.
***
Disinilah gue mulai menilai. Baik buruknya sesuatu apalagi sosial media yang cepet banget buat booming, itu pada user atau penggunanya. Segala kalangan usia bisa ngeakses dan segala hal ada. Bagaimana kitanya aja. Mau menilai itu baik buruknya. Bagaimana kita menggunakannya pada hal positif atau negatif. Aplikasi ga salah. Apalagi pembuat aplikasi. Kita gabisa nge jugde “kenapa sih ada aplikasi ini” , “kenapa sih aplikasi ini dibuat” atau “elah aplikasi *****” sedangkan “mungkin” beberapa orang nge –judge itu malah menikmatinya. Kitapun ga ngerti gimana pemikiran si pembuat aplikasi ini, bisa jadi untuk media hiburan saja. Gue sangat appreciate kepada si pembuat aplikasi itu, karena gue sendiri gabisa bikin sebuah aplikasi. Belajar nge –coding di SMA aja menurut gue itu butuh kesabaran yang ekstra. Menghargai publik dengan mengerti ruang publik terlebih menghargai antar sesama manusia tanpa memaksakan kebenaran juga perlu di tanamkan. Mengingat kita juga mempunyai “hak” dalam hidup. Jangan sampai merugikan orang lain, tetap berhati –hati dalam melakukan sesuatu. Ibaratnya kalian seneng melakukan itu, tetapi ada pihak yang dirugikan. Balik ke awal, itu persepsi masing orang yang belum tentu sama maksud dan tujuannya dengan apa yang dimaksudkan pembuatnya. Netizen negatif dengan netizen positif sama. sama -sama netizen, yang membedakan hanyalah sudut padang dan posisi dalam menilainya, sedangkan perbedaan bukan untuk diperkarakan tapi untuk dirayakan. Kita butuh sedikit refleksi terhadap yang terjadi, yang telah kita perbuat. Dan satu hal lagi, kita sebagai user juga perlu adanya pengetahuan bagaimana mengaplikasikan aplikasi. Belajar dengan melihat seorang Bowo saja, menurut gue ini sebuah tantangan buat jadi seorang orang tua kelak apalagi sekarang aja teknologi sudah makin maju, gimana nanti. Perihal blokir tidaknya aplikasi ini, gue serahin ke pemerintah yang telah "dewasa" dalam menyikapinya. Self reminder juga. Selamat Beraktifitas ^^

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Male Vs Female

Hmm, bahas gender. Hal ini terkadang cukup menarik untuk dibahas, terlebih banyak pertanyaan yang keluar dari orang lain akan masalah ini. Entah dari sisi sebuah hubungan individu dengan individu maupun dalam berkelompok. Kenapa sih cowok itu gapeka ? kenapa sih dia begini, begitu dan segala macem keluhan perempuan terhadap seorang laki –laki yang ia sayangi.  Its mainstream  untuk gue denger bahkan udah gue kategorikan sebagai hal yang basi. Akhirnya gue pun mencari apa sih perbedaan yang sesungguhnya. *** Dalam buku berjudul  men for mars, women for venus   ditulis oleh John Gray pada 1992 (gue baca di internet). Buku ini ditujukan untuk memahami hubungan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan sikap antara perempuan dan laki-laki membuat sering terjadi salah paham antara kedua belah pihak. Namun, benarkah otak perempuan dan laki-laki bekerja dengan cara yang berbeda? *** Peneliti diabad 19 ternyata sudah dapat membedakan perempuan dan laki...

Be your self

Gue akhir –akhir ini nge aktifin kembali sosial media gue yang bernama instagram. Mirip anak remaja jaman sekarang, labil. Instal, un instal. Gue sendiri sebenernya pake instagram juga belum ngerti manfaat dari gunain instagram, yang gue tau cuma liat reality life dari orang lain sehari –harinya, dan gue cenderung lebih suka ke sosial media twitter yang dimana disana banyak informasi yang gue dapet dibandingkan ngeliat kehidupan orang lain. *** Disuatu hari, gue liat sebuah instastory dari seseorang selebgram terkenal. Dia suka ngereceh, nge upload screenshoot –an dari fansnya yang ngerekomendasiin dirinya untuk buka akun youtuber yang akhir –akhir ini terkenal akan berdandan yang unik dan langka. Gue langsung penasaran disitu, kenapa dia sampai seterkenal itu ? siapa dia ? akhirnya gue pun buka akun youtube itu juga. Setelah gue buka, ternyata seorang perempuan dewasa yang tampak seperti anak kecil dengan polosnya mencoba bermake up untuk segala momen dan segala cara yang baru...