Sebenernya gue
enggan bahkan sama sekali tidak ingin membahas hal ini. Terlebih masalah cinta karena ini terdengar
sangat klasik, basi atau ini sebuah hal yang “alay” dan bisa jadi ini sebuah
privasi untuk preferensi di pikiran beberapa orang. Kembali lagi ke diri masing
–masing untuk menyikapi sebuah tulisan ini. Gue hanya menyampaikan opini dari
beberapa bacaan dan beberapa hasil overthinking gue tiap mendapatkan sesuatu
yang telah menemukan jawaban. Sesuatu itu entah datangnya dari cerita orang,
pandangan kita terhadap beberapa orang, dan hal lainnya yang bisa kita cermati.
Gue hanya merangkai semuanya menjadi sebuah tulisan di halaman ini. Baik tidaknya
atau penting tidaknya tulisan ini, kembali ke individu masing –masing. Gue sama
sekali engga menggurui, sok benar, atau bahkan merugikan beberapa pihak. Kembali
ke persepsi masing –masing. Namun, gue sangat bersyukur apabila tulisan ini dan
tulisan lain gue dapat menginspirasi atau sebagai pengingat kalian, terlebih
gue.
***
Hari ini, gue sengaja
pergi ke sebuah mall yang ada dikota gue. Entah mengapa gue ada rasa pengen
pergi ke mall itu hanya sekedar baca buku disebuah toko buku yang ada di mall
itu. Kenapa ga diperpus? Pengen beda suasana aja. Beberapa orang mengajak pergi
untuk menonton film di bioskop, namun gue rasa kalo film itu bisa ditonton kapan
aja dan dimana aja engga cuma di bioskop. Tapi entahlah, itu kalo gue. So, gue lebih
milih pergi sendiri untuk membaca buku. Kenapa sendiri ? simple. Gue ga
sendiri, gue selalu bersama-Nya. Di toko buku itu, gue
mendapati hal yang menarik untuk dibaca perihal psikologi, dan keagamaan. Entah,
emang minat baca gue ke bidang itu selain ke cerita novel atau realita
kehidupan. Menurut gue, mempelajari realita kehidupan kaya sifat, tingkah laku
dan sebagainya yang berkaitan manusia, itu bisa dihubungkan dengan psikologi
atau kebiasaan manusia memang penuh teka –teki yang menurut gue asik untuk di
pelajari yang nantinya bisa dihubungin dengan keagamaan. Semuanya didunia ini
memang saling berkaitan. Entah juga, kenapa gue suka hal ini, mungkin gue
kebawa kebiasaan yang keluarga gue yang notaben dari rumpun sosial, tapi engga
semuanya juga. Skip. Kembali ke topik.
***
Balik lagi ke sebuah
cinta. Apa sih itu? Kenapa sih ada cinta? Jadi, cinta itu sudah hadir sejak
zaman nabi Adam diciptakan dan kemudian diciptakanlah Hawa sebagai pasangan
hidupnya. Cinta itu fitrah alami manusia. Cinta itu sesuatu naluri atau insting
yang menggelayuti perasaan seseorang. Cinta
itu, bagaimana seseorang yang menyikapinya. Ia bisa menjadi inspirasi dan bisa
jadi sebuah kesengsaraan. Cinta itu bisa membahagiakan tapi juga bisa
menyakitkan. Cinta juga bisa menjadi obat namun bisa juga menjadi penyakit. Cinta
bisa membuatmu melihat dan mendengarkan namun bisa membuatmu menjadi buta dan
tuli. Cinta itu bisa membuatmu menikmati masa mudamu, tapi bisa menghancurkan
masa mudamu. Cinta itu bisa membuat pikiranmu lebih terbuka, tetapi bisa juga
membuatmu kehilangan akal sehat. Kalo jaman sekarang namanya bucin (budak
cinta) haha, ada –ada aja. Cinta itu layaknya sebuah pisau. Apabila pisau
itu berada di tangan seseorang penjahat yang berniat jahat, jadilah pisau untuk
menyakiti. Begitu pula sebaliknya kalo ditangan seorang chef bakal jadi alat
pemotong untuk membuat sebuah makanan yang lezat. Sedangkan orang yang mencinta
itu seperti sebuah kapten yang sedang mengemudikan kapalnya. Mau kearah mana
sebuah hubungan itu, baik atau buruk.Tapi cinta yang sebenarnya (hakiki) itu
hanya cinta kepada-Nya.
***
Banyak pemuda jaman
sekarang mengeluhkan perihal “cintanya” bahkan diakun sosial media sekalipun. “Kenapa sih ini
begini, kenapa sih ini begitu dan sebagainya.”
Tidak jarang juga beberapa orang menjadikan sebuah kisah percintaan
orang lain sebagai bahan gunjingan. Walaupun seseorang sudah berfikir terlebih
dahulu sebelum melakukan, ya namanya juga hidup didunia yang dimana manusia
sedang diuji tingkat keimanannya buat naik level. Berita memang tidak selamanya
di terima seseorang baik, begitu pula sebaliknya. Hal positif dan hal negatif
selalu berdampingan agar balance. Agar seseorang bisa memperbaiki.
***
Seseorang yang sedang
menjalani sebuah “cinta” pasti memikirkan “kenapa ya fase dalam bercinta itu
begitu gitu aja? Awalnya romantis, lambat laun seperti membosankan bahkan
beberapa hal menyakitkan.” Menurut buku yang gue baca yang dimana buku itu
cantumin bahwa seorang peneliti dari Researchers
at National Autonomous University of Mexico itu udah neliti masalah ini,
yang dimana hasil penelitiannya, sebuah hubungan cinta suatu saat akan menemui
titik jenuh. Hal itu terjadi bukan hanya karena faktor bosan semata, tetapi
karena kandungan zat kimia pada otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah
terkikis habis. Rasa tergila –gila dan dorongan cinta pada seseorang tidak akan
bertahan lebih dari empat tahun saja. Jadi, setelah empat tahun itu rasa cinta
didalam hati itu akan sirna. Cintanya menjadi hampa dan orientasinya bukan
sebuah rasa namun sebuah syahwat sehingga yang tersisa hanyalah dorongan seks
saja. (Mengerikan bukan kalau arahan cintanya menuju hal semacam ini). Adapun rasa
tergila –gila pada awal jatuh cinta itu disebabkan oleh aktivasi dan
pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin,
feromon, oxytocin, dan neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia
dan berbunga –bunga. Akan tetapi hal itu akan berkurang kemudian menghilang
seiring berjalannya waktu. Nah jadi wajar tuh kalo misal masa romance itu
datang di awal pas masa jatuh cinta saja, gausah digalauin. Lantas bagaimana
menyiasati hal ini ? tidak lain dengan meyakinkan diri kepada-Nya. Kepada Yang
Mahacinta. Yakin aja, kalau dia memang keduanya benar –benar di takdirkan untuk
bersama tidak akan berpaling. Dan perlu di sadari pula bahwa hal romatis pada
saat mencintai seseorang itu kedekatan dengan sang pemilik-Nya.
***
Beberapa orang juga
menghadapi rasa cemburu dikala mencintai. Hal ini bisa gue katakan sebagai hal
yang wajar di rasakan oleh seseorang yang sedang mencintai. Kenapa wajar? Karena
pada umumnya manusia dalam mencintai punya hal disukai dan tidak disukai,
seperti halnya kecintaan dalam sebuah benda atau makanan. Hanya saja kadar
kecemburuan dan cara menyikapinya saja yang membedakan. Bagaimana menyikapi hal
ini ? beberapa orang menyikapi hal semacam ini dengan membangun kepercayaan
kepada seseorang pasangannya. Bahkan ada tuh seseorang public figure membuat 3 prinsip. Trust, Commitment and Confidence. Beberapa orang ada pula yang
memilih untuk bersabar karena sudah dijelaskan dari awal, apabila seseorang
telah di takdirkan untuk bersama, ia akan terus bersama dan tidak akan
berpaling, tidak salah alamat. Begitu pula yang sudah disebutkan bahwasannya
pasangan kita adalah bagaimana diri kita (cerminan diri). Semuanya kembali lagi
ke sifat individu masing –masing. Memang ya, perihal cinta itu kadang membuka
hidup pemilik berliku dan tidak menentu. Sungguh Allah memberikan kebahagiaan
itu dengan berbagai cara, bagaimana kehendak-Nya. Begitu pula akan kesedihan
yang membuat kita naik level. Kita sebagai hambanya hanya bisa bersyukur dengan
apa yang telah kita dapati sekarang ini, kekurangan dan kelebihan pasangan kita
itu sebuah penghargaan untuk diri kita. Tugas kita sebagai umat-Nya bersyukur,
dan menerima segala kekurangan dan menutupinya dengan saling percaya. Cinta yang
tulus karena Allah akan membuat hati menangis bila tahu kondisi pasangannya
kelak pada hari kiamat. Seperti cinta samawa Fatimah! Duh, terharu.
Sekian dulu blognya
haha. Bakal panjang kalau diterusin, tapi tenang semua permasalahan didunia ada
solusinya.
Intisari pada blog gue
kali ini yaitu percaya pada ketetapan-Nya. Yakin kalau cintamu itu benar milikmu. Untukmu kaum
Adam, jaga dan tingkatkan terus iman dan taqwa kalian agar kelak kamu menjadi
navigator yang terbaik untuk kapalmu. Untukmu yang kaum hawa, tetaplah menjadi
layaknya seorang sahabat rasul yang bernama Asma. Asma yang dikenal sebagai
perempuan yang rajin beribadah, dan selalu memanjatkan doa ditengah keheningan
malam agar diberikan pasangan terbaik menurut-Nya dan konsisten dalam menjaga
hingga pada akhirnya menerima orang yang tepat, kemudian bersabarlah. Jomblo, single ataupun taken
itu perihal status kekinian saja selama belum adanya sebuah ikatan pernikahan. Jomblo
jangan sedih atau baper baca ini, haha. Taken mencintai seperlunya, karena yang
berlebihan itu tidak baik dan Allah tidak suka itu, perihal membenci juga begitu. Pesan untuk keduanya,
tingkatkan semuanya! dan didalam islam menganjurkan untuk menikahi seseorang
karena empat hal yaitu karena harta benda, keturunan, kecantikan atau
ketampanan dan agamanya. Sedangkan hal paling diutamakan adalah perihal
terakhir yaitu agamanya. Kecantikan atau ketampanan belum tentu menjamin. Stop judge
seseorang karena setiap orang mempunyai caranya tersendiri dalam menyikapi
hidupnya. Bagaimana dengan sifat? Itu perihal yang bisa diubah dengan
berjalannya waktu, hanya butuh kemauan. Alihkan waktu judge-mu untuk berkarya
sembari memperbaiki dirimu untuk masa yang akan datang sekaligus untuk
menjemput pasangan hidupmu. Selamat beraktivitas ^^
Sumber Bacaan : Diza Diandra, beberapa sumber dan buku lain.
Sumber Bacaan : Diza Diandra, beberapa sumber dan buku lain.
Komentar
Posting Komentar